anda pengunjung ke

Wednesday, January 2, 2013

PRANOTOMONGSO

Kalender Pranotomongso dihitung berdasarkan perjalanan Matahari yang pada zaman dahulu digunakan oleh orang-orang di tanah Jawa sebagai patokan untuk mengetahui musim. Jumlah bulan pada kalender ini ada 12, yaitu :
1. Kaso                  : “Sotyo murco saking embanan” (mutiara lepas dari pengikatnya)
Musim daun-daun gugur pohon-pohon jadi gundul.
2. Karo                  : “Bantolo Rengko” (tanah retak)
Musim tanah jadi gersang dan retak-retak.
3. Katigo               : “Suto manut ing bopo”
Musim pucuk tanaman menjalar pada rambatan.
4. Kapat                : “Waspo kumembeng jroning kalbu”
Musim sumber-sumber jadi kering.
5. Kalimo              : “Pancuran emas sumawur ing jagad”
Mulai musim hujan.
6. Kanem               : “Roso mulyo kasucian”
Musim pohon-pohon mulai berbuah.
7. Kapitu               : “Wiso kenter ing maruto”
Musim bertiupnya angin yang mengandung bias (penyakit).
8. Kawolu                         : “Anjrah jroning kayun”
Musim kucing kawin, padi mulai berubah, banyak uret.
9. Kasongo            : “Wedaring wono mulyo”
Musim jangkrik, gasir, gareng poung, (banyak orang bicara berlebih-lebihan).
10. Kasepuluh       : “Gedong mineb jroning kalbu”
Musim binatang-binatang hamil.
11. Dastho             : “Sotyo sinoro wedi”
Musim burung-burung menyuapi anaknya.
12. Sodo                : “Tirto sah saking sasono” (air pergi dari tempatnya)
Musim dingin, orang jarang berkeringat karena teramat dingin.
Pada mulanya, Pranotomongso hanya mempunyai 10 mongso. Sesudah mongso kesepuluh tanggal 18 April, orang menunggu saat dimulainya mongso yang pertama (kasa atau kartika) yakni tanggal 22 Juni. Masa menunggu itu cukup lama, sehingga akhirnya ditetapkan sebagai mongso yang kesebelas (destha atau padawana) dan mongso yang kedua belas (sadha atau asuji). Sehingga satu tahun menjadi genap 12 mongso. Hari pertama mongso kesatu dimulai pada 22 Juni.
Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa perhitungan Pranotomongso membawakan watak dan pengaruh. Maka kita akan menjelaskan tentang mongso tersebut. Mongso yang membawa watak bawaan atau pengaruh itu ada tiga, yaitu;
1.            Kasa (kartika), watak (pengaruhnya) : dedaunan rontok, kayu-kayu patah di atas. Saat mulai menanam palawija, belalang bertelur. Bayi yang lahir dalam mongso. Kasa ini berwatak belas kasihan.
2.            Karo (poso), watak (pengaruhnya) : tanah retak, tanaman palawija harus dicarikan air, pohon randu dan mongso tumbuh daun-daunnya. Bayi yang lahir dalam mongso itu wataknya ceroboh, kotor.
3.            Sodo (asuji), watak (pengaruhnya) : musim dingin, jarang orang berkeringat. Usai panen. Bayi yang lahir dalam masa itu wataknya cukupan.
     PERHITUNGAN PENANGGALAN PRANOTOMONGSO
Jumlah bulan dalam kalender ini sama dengan jumlah bulan pada kalender Masehi maupun Hijriah yaitu terdiri dari 12 bulan. Sedangkan cara membuat dan masuknya bulan pada kalender ini, cukup dengan mengikutkannya dengan kalender Masehi pada tanggal dan bulan yang sudah ditentukan.

TABEL PRANOTOMONGSO
NO.
MONGSO
UMUR
(hari)
PERMULAAN MONGSO
1.
Kaso (kartika)
41
22 Juni – 1 Agustus
2.
Karo (poso)
23
2 Agustus - 24 Agustus
3.
Katelu
24
25 Agustus - 17 September
4.
Kapat (sitra)
25
18 September - 12 Oktober
5.
Kalima (manggala)
27
13 Oktober - 8 November
6.
Kanem (naya)
43
9 November - 21 Desember
7.
Kapitu (palguna)
43
22 Desember - 2 Februari
8.
Kawolu (wasika)
26/27
3 Februari - 28 Februari
9.
Kasongo (jita)
25
1 Maret - 25 Maret
10.
Kasepuluh (srawana)
24
26 Maret - 18 April
11.
Dastho (pradawana)
23
19 April - 11 Mei
12.
Sodo (asuji)
41
12 Mei - 21 Juni



    PENANGGALAN PRANOTOMONGSO DI ZAMAN SEKARANG
Dari penjelasan penanggalan Pranotomongso di atas, maka dapat diketahui bahwa pada bulan Desember-Januari-Pebruari adalah musim badai, hujan, banjir, dan longsor. Dan ketentuan ini mendekati dengan situasi alam zaman sekarang ini. Selanjutnya pada musim berikutnya yaitu Kawolu yang bertepatan pada tanggal 2/3 Pebruari - 1/2 Maret, adalah bulan untuk bersiap-siaga ataupun waspada menghadapi penyakit tanaman maupun wabah bagi manusia dan hewan. seperti dampak akibat terjadinya banjir, badai dan longsor. Yaitu penyakit, kelaparan dan sebagainya akan melanda di daerah tersebut. Hal itu kalau kita cerna lebih dalam ternyata masuk akal juga. Manusia, binatang dan tanaman belum siap mempertahankan diri dari serangan hama penyakit akibat terjadinya gejala alam tersebut. Dalam keadaan lemah kuman dan penyakit sangat mudah untuk menyerang kita.
Sedangkan para nelayan, yang biasanya melaut sambil membaca alam dengan melihat letak bintang yang kemudian dijadikan patokan ketika mereka melaut. Masih juga diterapkan oleh nelayan di Indonesia. Mereka mengetahui pada bulan-bulan berapa saat yang baik melaut sehingga mereka bisa mendapatkan ikan banyak. Begitu pula sebaliknya, mereka juga mengetahui kapan waktu untuk tidak melaut karena berbahaya dan tidak akan menghasilkan apa-apa. Dan pada saat-saat itulah mereka gunakan waktu untuk beraktivitas yang lain, seperti memperbaiki jaring, perahu, rumah dan dll
Seperti yang kita tahu bahwa selama ribuan tahun nenek moyang kita menghafalkan pola musim, iklim dan fenomena alam lainnya. Sehingga mereka dapat membuat kalender tahunan bukan berdasarkan kalender Syamsiah (Masehi) atau kalender Komariah (Hijrah/lslam) tetapi berdasarkan kejadian-kejadian alam yaitu seperti musim penghujan, kemarau, musim berbunga, dan letak bintang di jagat raya, serta pengaruh bulan purnama terhadap pasang surutnya air laut.akan tetapi perlu kita ketahui bahwa pola perhitungan dan data-data yang digunakan dalan penentuan penanggalan tersebut adalah masih bersifat tradisional. Serta kondisi  alam sekarang ini pun berbeda dengan kondisi alam zaman dulu. Sehingga kalu kita jadikan sebagai acuan untuk penentuan waktu dalam aktivitas kita, untuk sekarang ini sudah tidak relevan lagi. Nenek moyang kita mengambil rumus pranotomongso dengan cara melihat kebiasaan kejadian-kejadian alam pada masa itu. Dan untuk saat ini kejadian tersebut sudah tidak beraturan, dan sulit untuk dirumuskan kapan kejadian tersebut akan terjadi.
Kejadian alam untuk musim hujan pada bulan Desembaer-Januari-Februari itu bukan musim hujan yang selalu tetap dan bersifat statis. Kalau kita lihat kejadian hujan di negara ini, maka kita akan merasa bahwa seolah-olah hujan itu turun dengan sendirinya dan susah untuk diprediksi musimnya. Padahal dulunya, musim hujan itu pada bulan Oktober sampai bulan Maret. Sedangkan musim kemarau itu dimulai dari bulan April sampai bulan September.
Sekarang ini, para petani menanami lading mereka ssemau mereka sendiri tanpa peduli lagi dengan adanya musim. Petani juga bercocok taman sesuatu yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat.














No comments: