anda pengunjung ke

Monday, April 24, 2017

SLAMET MULJANA

PROF. DR. SLAMET MULJANA & KONTROVERSI SEJARAH
“Kenyataan historis kadang-kadang terlalu pahit untuk ditelan dan terlalu pedas untuk dirasakan. Namun, sekali fakta sejarah itu ditemukan, fakta itu tidak akan dapat diubah. Meskipun fakta sejarah itu mungkin terlalu pedas untuk dirasakan, ilmu sejarah tetap mengejar-ngejarnya.” (Slamet Muljana, 1968).
Slamet Muljana menulis kalimat itu ketika mengantar bukunya, “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara” (Penerbit Bhratara, Jakarta, 1968). Apa boleh buat, tiga tahun kemudian, 1971, ternyata buku ini dibredel, ditarik, oleh Kejaksaan Agung dengan alasan buku terlarang karena isinya kontroversial, bisa mengganggu stabilitas politik, dan meresahkan masyarakat.
---------------------------------------
SIAPA SLAMET MULJANA
Slamet Muljana lahir di Yogyakarta 21 Maret 1921 (beberapa informasi menyebutkan ia lahir tahun 1929, tetapi ini meragukan). Gelar B.A. diraihnya dari Universitas Gadjah Mada pada 1950, M.A. dari Universitas Indonesia pada 1952, dan gelar doktor dalam bidang sejarah dan filologi (ilmu naskah kuno) dari Universitas Louvain, Belgia pada tahun 1954.
Filologi adalah studi tentang teks-teks sastra dan catatan tertulis, penetapan dari keotentikannya dan keaslian dari pembentukannya dan penentuan maknanya. Filologi juga merupakan ilmu yang mempelajari naskah-naskah manuskrip, biasanya dari zaman kuno (Wikipedia, 2014).
Sejak 1958, Slamet Muljana telah menjadi profesor pada Universitas Indonesia. Pekerjaan utamanya adalah dosen dan peneliti, baik di dalam maupun luar negeri, serta pernah menjadi direktur lembaga bahasa dan kebudayaan dan anggota dewan kurator lembaga studi-studi Asia Tenggara.
Slamet Muljana menulis artikel dan buku. Artikel-artikelnya dipublikasi di jurnal dalam dan luar negeri. Sebanyak 18 buku telah ditulisnya. Dari karya-karyanya, boleh dibilang Slamet Muljana telah meneliti dan menulis sejarah dari tahun 400 M (buku “Dari Holotan ke Jayakarta”) sampai tahun 1945 (buku “Kesadaran Nasional-dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan).
Pernah banyak disebutkan bahwa hidup Slamet Muljana adalah untuk Majapahit. Beralasan menyebutnya begitu sebab hampir setengah dari semua buku yang ditulisnya adalah untuk Majapahit. Buku pertamannya tentang Majapahit (“Nagarakrtagama” - 1953), buku terakhirnya pun, yang ditulis tiga tahun sebelum Slamet Muljana meninggal, juga tentang Majapahit (“Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit” -1983). Maka boleh disebut lebih dari setengah usia hidupnya dicurahkan untuk Majapahit.
Slamet Muljana selain dikenal sebagai ahli sejarah, ia juga adalah seorang ahli bahasa, menulis beberapa buku tentang kaidah dan politik bahasa Indonesia, juga perbandingan bahasa-bahasa Asia Tenggara. (misalnya buku “Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara” -Balai Pustaka, 1964).
2 Juni 1986 di Jakarta, Slamet Muljana meninggal. Beberapa bukunya diterbitkan kembali oleh Penerbit PT LKiS Pelangi Aksara Yogyakarta sejak tahun 2005. Kalau tak diterbitkan kembali, mungkin susah mencari buku-bukunya lagi, apalagi bukunya yang dibredel itu. Kini bukunya yang dibredel itu diterbitkan kembali.
Slamet Muljana juga dikenal sebagai peneliti dan penulis sejarah yang tidak jarang menyebabkan kontroversi karena beberapa karyanya yang memuat kesimpulan-kesimpulan mencengangkan yang berbeda dengan pengetahuan pada umumnya. Dan Slamet Muljana berani mengemukakannya secara terbuka baik melalui artikel-artikelnya di surat kabar, majalah, maupun buku. Tidak jarang pula ia berdebat dengan para ahli sejarah lainnya.
Saya memiliki beberapa buku karya Slamet Muljana, termasuk yang kontroversial, yang akan saya ceritakan lebih jauh berikut ini.
KONTROVERSI ASAL PARA WALI SONGO
Kontroversi Slamet Muljana yang paling terkenal dan menimbulkan reaksi keras muncul dalam buku “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara” (1968). Slamet Muljana sudah menduga dari awal bahwa bukunya ini akan menimbulkan kontroversi, maka ia menulis dalam kata pengantar buku ini seperti yang saya kutip membuka artikel ini.
Di buku ini, Slamet Muljana mengemukakan bahwa berdasarkan penelitiannya atas beberapa naskah yang selama ini jarang dirujuk oleh ahli lainnya (Serat Kanda, Babad Tanah Jawi, naskah kuno dari Kelenteng Sam Po Kong), bahwa sebagian Wali Songo itu berasal dari Cina, atau Tionghoa peranakan.
Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari pembentukan masyrakat Tionghoa Islam pertama di Nusantara yang dibentuk Cheng Ho di Palembang pada tahun 1407 setelah Palembang dibebaskan dari kerusuhan-kerusuhan yang dilakukan perampok-perampok Hokkian. Raden Patah, seorang peranakan Tionghoa bernama Jin Bun dengan ibu Putri Cina (wanita peranakan) dan ayah Prabu Brawijaya V (Kertabhumi – raja terakhir Majapahit) lahir di Palembang pada 1455, didik secara Islam, dan datang ke Jawa pada 1474.
Di Jawa, dengan bantuan para Wali Songo yang sebagian juga datang dari Cina atau peranakan Tionghoa, Jin Bun mendirikan Kerajaan Demak, kemudian akhirnya menyerang dan meruntuhkan Majapahit pada 1478 yang sedang diperintah oleh ayahnya sendiri, Kertabhumi. Sejak itu pupuslah kerajaan-kerajaan Hindu atau Budha di Jawa yang sudah ada sejak tahun 400 M, digantikan oleh kerajaan-kerajaan Islam.
Beberapa Wali Songo yang berdarah Cina atau Tionghoa peranakan yang membantu Raden Patah meruntuhkan Majapahit dan menyebarkan agama Islam di Jawa adalah:
1. Bong Swi Hoo/ Raden Rahmat/ Sunan Ampel, asal Yunan yang datang ke Jawa pada 1445 dan membentuk masyarakat Islam Jawa di Ampel,
2. Gan Si Cang/Raden Said/ Sunan Kalijaga, asal seorang kapten kapal Cina di Semarang,
3. Toh A Bo/ Syarif Hidayatullah/ Sunan Gunung Jati, anak Sultan Trenggana (Tung Ka Lo), raja Demak, yang merupakan panglima tentara Demak,
4. Dja Tik Su/ Jafar Sadik/Sunan Kudus,
5. Sunan Bonang, putra Sunan Ampel, peranakan Tionghoa tidak bisa berbahasa Tionghoa
6. Sunan Giri, murid Sunan Ampel, peranakan Tionghoa tidak bisa berbahasa Tionghoa
Di samping itu, dikatakan pula bahwa Kerajaan Demak sendiri berturut-turut diperintah oleh raja-raja beretnis Cina: Jin Bun (Raden Patah, 1478-1518), Yat Sun (Adipati Unus, 1518-1521), Tung Ka Lo (Trenggana, 1521-1546), Muk Ming (Sunan Prawata, 1546).
Pendapat Slamet Muljana ini menimbulkan reaksi yang keras baik di masyarakat maupun Pemerintah. Masyarakat selama itu berpendapat bahwa para Wali Songo berasal dari Arab/Hadramaut/Yaman, bukan dari Cina. Pada saat buku ini terbit (1968) saat itu tengah ada sentimen anti-Cina terkait dengan Gerakan 30 September yang diduga disokong oleh Pemerintah Cina. Dengan alasan itu pulalah buku ini dibredel – alasan politis.
Apakah benar atau tidak yang ditulis Slamet Muljana? Para ahli sejarah yang harus membuktikannya sebab buku Slamet Muljana ini belum ada lawannya. Tetapi beberapa fakta menunjukkan bahwa sinyalemen Slamet Muljana mungkin saja benar, misalnya bahwa Raden Patah memang merupakan putra Kertabhumi dengan seorang Putri Cina, sehingga Raden Patah punya darah Cina di samping Jawa.
Semua versi yang ada mengatakan bahwa asal Raden Patah berhubungan dengan Cina.
Menurut Babad Tanah Jawi, Raden Patah adalah putra Brawijaya raja terakhir Majapahit (versi babad) dari seorang selir Cina. Selir Cina ini puteri dari Kyai Batong (alias Tan Go Hwat).Menurut Purwaka Caruban Nagari, nama asli selir Cina itu adalah Siu Ban Ci, putri Tan Go Hwat dan Siu Te Yo dari Gresik. Tan Go Hwat merupakan seorang saudagar dan juga ulama bergelar Syaikh Bantong (alias Kyai Batong). Menurut kronik Cina dari kuil Sam Po Kong, nama panggilan waktu Raden Patah masih muda adalah Jin Bun (orang kuat artinya, atau Al Fatah – pemenang dalam bahasa Arab), putra Kung-ta-bu-mi (alias Bhre Kertabhumi alias Brawijaya V) raja Majapahit (versi Pararaton) dari selir Cina. Menurut Sejarah Banten, Pendiri Demak bernama Cu Cu (Gan Eng Wan?), putra (atau bawahan) mantan perdana menteri Cina (Haji Gan Eng Cu?) yang pindah ke Jawa Timur. Meskipun terdapat berbagai versi, namun diceritakan bahwa pendiri Demak ini emang memiliki hubungan dengan Majapahit, Cina, Gresik, dan Palembang.
Fakta lain adalah bahwa Sunan Ampel, yang berputra Sunan Bonang, juga punya darah Campa/Cina selatan sebab menurut riwayat ia adalah putra Ibrahim Zainuddin Al-Akbar dan seorang putri Campa yang bernama Dewi Condro Wulan binti Raja Campa Terakhir Dari Dinasti Ming. Campa lebih dulu menjadi daerah beragama Islam daripada Jawa. Pada abad ke-10 dan seterusnya, perdagangan laut dari Arab ke wilayah ini telah membawa pengaruh budaya dan agama Islam ke dalam masyarakat Campa, yang baru terjadi di Jawa 500 tahun kemudian.
Apakah pendapat Slamet Muljana benar atau salah? Sulit menjawabnya. Yang harus dilakukan adalah menggali kembali sumber-sumber sejarah dari mana Slamet Muljana menurunkan kesimpulan-kesimpulannya.
KONTROVERSI FALATEHAN, FATAHILLAH, DAN SUNAN GUNUNG JATI
Pengetahuan umum mengatakan bahwa Falatehan, Fatahillah atau Sunan Gunung Jati itu adalah orang yang sama. Buku Dennys Lombard yang terkenal itu tentang sejarah Jawa (Le Carrefour de Javanais -Jawa: Silang Budaya) juga menyebutkan bahwa Falatehan = Fatahillah = Sunan Gunung Jati.
Namun Slamet Muljana dalam bukunya, “Dari Holotan ke Jayakarta” (1980) mengeluarkan kesimpulan yang mengejutkan : bahwa Falatehan/Fatahillah itu tidak sama dengan Sunan Gunung Jati, itu adalah dua orang yang berbeda. Dalam bukunya tentang masa akhir Majapahit di atas (1968), Slamet Muljana masih menyebutkan bahwa Sunan Gunung Jati adalah Syarif Hidayat Fatahillah, tetapi di buku Holotan (1980), Slamet Muljana mengoreksinya.
Bahwa Falatehan atau Fatahillah bukan Sunan Gunung Jati didasarkan Slamet Muljana (1980) atas penelitian naskah Purwaka Tjaruban Nagari tulisan Pangeran Arya Tjarbon (1720). Ini adalah naskah sejarah (babad) lokal wilayah Cirebon. Naskah ini sudah diterjemahkan langsung dari bahasa aslinya ke dalam bahasa Indonesia oleh Sulendraningrat, penanggung jawab Sejarah Cirebon, dan diterbitkan oleh Bhratara (1972).
Naskah Purwaka Caruban Nagari menguraikan dengan jelas bahwa Panglima Demak yang berasal dari Pasai dan berhasil menguasai Banten dan Sunda Kalapa pada tahun 1526 dan 1527 bernama Fadillah Khan. Slamet Muljana mengatakan bahwa Falatehan ialah transliterasi (pergantian huruf dan bunyi) dari nama asli Fadillah Khan. Nama aslinya adalah : Maulana Fadillah Khan Ibnu Maulana Makhdar Ibrahim al-Gujarat. Kemudian, naskah Purwaka Caruban Nagari pun sama sekali tak menyinggung pergantian nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta seperti diberitakan di banyak buku sejarah ketika Falatehan menduduki Sunda Kalapa dan mengusir Portugis. Nama Sunda Kalapa tetap dipakai sampai akhir tahun 1500-an. Tahun 1628, ketika pasukan Sultan Agung dari Mataram menyerang Batavia yang saat itu sudah diduduki Belanda (nama Batavia dipakai sejak tahun 1613), naskah Purwaka telah menyebutnya sebagai Jayakarta. Artinya ada pergantian nama dari Sunda Kalapa ke Jayakarta, tetapi itu terjadi sekitar akhir 1500-an dan awal 1600-an, bukan sejak 1527 seperti selama ini diketahui.
Slamet Muljana pun berargumen bahwa Falatehan itu adalah ulama sekaligus panglima perang Islam yang pernah hidup di Pasai , Demak, dan Banten sebelum ke Sunda Kalapa. Bagi ulama Islam seperti Fadillah Khan, nama Arab lebih cocok daripada nama Sanskerta. Seandainya ia mau mengganti nama Sunda Kalapa saat didudukinya, tak mungkin nama Sanskerta yang berbau Hindu seperti Jayakarta yang akan dipilihnya. Setelah menaklukkan Sunda Kalapa, Falatehan diangkat menjadi bupati Sunda Kalapa oleh Susuhunan Gunung Jati (Sunan Gunung Jati).
Falatehan/Fatahillah dan Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayattullah adalah dua orang yang berbeda. Kedua orang ini memang dua sahabat sebagai sesama ulama Islam.
Di atas Gunung Sembung, sebuah bukit di sekitar Cirebon, tempat makam para leluhur Cirebon, ditemukan makam Sunan Gunung Jati, sementara makam Fadillah Khan ada di Gunung Jati. Sunan Gunung Jati wafat pada tahun 1568, sedangkan Fadillah Khan (Falatehan/Fatahillah) wafat pada tahun 1570.
Demikian kontroversi soal Falatehan/Fatahillah dan Sunan Gunung Jati.
KONTROVERSI KELAHIRAN KOTA JAKARTA
22 Juni adalah hari ulang tahun kota Jakarta. Tanggal tersebut ditentukan sejak tahun 1956 ketika hasil penelitian Mr. Dr. Soekanto, ahli sejarah, diterima Pemerintah dan badan legislatif saat itu. Gubernur Jakarta Sudiro pada tahun 1954 meminta Mr. Mohammad Yamin (negarawan dan ahli hukum), Sudarjo Tjokrosiswono (wartawan senior Jakarta), dan Mr. Dr. Soekanto (ahli hukum dan sejarah) meneliti kapan sebenarnya kota Jakarta lahir.
Tahun 1527, tahun saat Fatahillah mengalahkan Portugis di Teluk Jakarta telah dianggap sebagai asal kata Jakarta (Jayakarta saat itu), maka jadilah hari lahir Jakarta: 22 Juni 1527. Soekanto mempublikasikan hasil penelitiannya ke dalam buku berjudul, “Dari Jakarta ke Jayakarta : Sejarah Ibukota Kita” (Soekanto, 1954).
Hasil penelitian Sukanto segera direspon oleh para ahli sejarah lain. Yang merespon saat itu adalah antara lain tak kurang dari Prof. Dr. Hoesin Djajadiningrat, doktor pertama Indonesia, yang sejak 1913 telah menjadi doktor sejarah melalui disertasinya yang terkenal tentang sejarah Banten : Critische Beschouwing van de Sedjarah Banten (Haarlem, 1913) (Tinjauan Kritis Sejarah Banten). Argumen Hoesin Djajadiningrat atas penelitian Soekanto dimuat di Majalah Bahasa dan Budaja volume V no. 3 tahun 1956-1957, hal 3-9. Hoesin Djajadiningrat berkesimpulan bahwa hari lahir kota Jakarta (Jayakarta) adalah 17 Desember 1526. Argumennya adalah bahwa hari itu adalah hari kemenangan Falatehan (Fatahillah) di Jakarta atas Portugis yang konon bertepatan dengan hari kemenangan Nabi Muhammad dalam perang merebut Mekkah. Falatehan adalah seorang ulama yang tawakal, maka sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah, konon ia mengucapkan ayat Al Quran ”Inna fatahna laka fathan mubinan” seperti yang diucapkan Nabi Muhammad ketika berhasil merebut Mekkah.
Namun lebih menarik lagi adalah pendapat yang diajukan Prof. Dr. Slamet Muljana, yang muncul dalam rangkaian tulisan ilmiah populer di Koran Suara Karya pada April-Mei 1979. Kemudian, seri tulisan ini dibukukan ke dalam buku berjudul : ”Dari Holotan ke Jayakarta” (Yayasan Idayu, 1980). Slamet Muljana berargumen dan menolak tanggal-tanggal kelahiran Jakarta dari Soekanto maupun Hoesin Djajadiningrat. Menurut Slamet Muljana, nama Jakarta itu bukan nama yang diberikan oleh Fatahillah atau Falatehan saat memenangkan Sunda Kalapa. Nama Jakarta itu berasal dari Piagam Banten yang bertarikh awal 1600-an., sesudah 1602, yaitu sesudah VOC dibentuk sebab di dalam Piagam Banten itu termuat satu kata bukan asli Sunda-Banten. Dr. van der Tuuk (1870), ahli bahasa dan sejarah, menyebutkan pemuatan kata “Jakarta” di piagam itu. Ini adalah kutipan dari Piagam Banten (van der Tuuk, 1870):
“Lamon ana wong Djaketra angambil daon atawa kaju atawa angambil wiru, iku aweja ruba-ruba adjen-adjen sarejal; lamon sih wong Djaketra iku ora anggawa tjap dalem lan surate kumendur, iku tjegahen patjuwun den wehi mandjing ing muwara Putih; lamon maksa ora kena den tjegah, den gelis-gelis matura ing Bumi olija den sih” – yang artinya:
“Jika ada orang Jakarta mengambil daun, atau kayu atau nipah, supaya memberikan uang pengganti. Jika orang Jakarta itu tidak membawa cap istana dan surat dari komandan, supaya ditolak dan dimasukkan ke dalam muara sungai Putih. Jika ia memaksa dan tidak mau ditolak, supaya segera memberitahu Mangku Bumi”.
Laporan Cornelis de Houtman (dalam de Jonge, 1862 : De opkomst van het Nederlandsche gezag in Oost-Indie 1595-1610 ’s Gravenhage) pada tanggal 14 November 1596 menyebut nama Pangeran Wijayakrama (Pangeran Jayakarta) sebagai koning van Jacatra (raja Jakarta). Ternyata, bahwa nama Jakarta sudah muncul sejak akhir 1500-an. Bukan nama Jayakarta.
Falatehan sebagai panglima dan ulama Islam saat memenangkan Sunda Kalapa tak mungkin menggunakan nama Sanskerta “Jayakarta” untuk mengganti namanya sebab nama Jayakarta berbau nama Hindu, begitu argumen Slamet Muljana.
Menurut Slamet Muljana, tahun kelahiran Jakarta bukanlah 1527, tetapi 50 atau 60 tahun sesudah itu; bukan mulai pada saat Falatehan menduduki Sunda Kalapa (Sunda Kalapa kala itu adalah pelabuhan Kerajaan Pakuan yang beragama Hindu) pada tahun 1527, tetapi pada masa Pangeran Jayakarta menjadi bupati di Sunda Kalapa, yaitu sesudah tahun 1570.

Wednesday, December 28, 2016

PENJAJAHAN ASING HINGGA PROKLAMASI


Perubahan Dan Keberlanjutan Dalam Peristiwa Sejarah Pada Masa  Penjajahan Asing Hingga Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
            Sejarah adalah ilmu tentang asal usul dan perkembangan masyarakat dan bangsa yang berkelanjutan dalam kehidupan masyarakat dan bangsa di masa kini. Pendidikan Sejarah merupakan suatu proses internalisasi nilai-nilai, pengetahuan, dan keterampilan kesejarahan dari serangkaian peristiwa yang dirancang dan disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar. periodesasi sejarah , misalnya sejarah Indonesia. Untuk mempermudah memahami perkembangan sejarah Indonesia, maka sejarah Indonesia disusun dalam periodesasi sebagai berikut:
1.      Prasejarah (jaman batu dan jaman logam)
2.      Masuk dan berkembangnya pengaruh budaya India
3.      Masuk berkembangnya islam
4.      Zaman colonial
5.      Zaman pendudukan jepang
6.      Revolusi kemerdekaan
7.      Masa orde lama
8.      Masa orde baru
9.      Masa reformasi Tujuan di buatnya periodisasi bukan berarti memutuskan peristiwa yang satu dengan yang lainnya , karena dalam sejarah aspek kesinambungan dan kontinuitas merupakan suatu hal yang pokok

3.2 Menganalisis proses masuk dan perkembangan penjajahan bangsa barat(portugis,belanda,inggris). Di Indonesia
·         Masuknya Bangsa Portugis ke Indonesia
Bangsa Portugis telah berhasil mencapai India (Kalikut) 1498. Bangsa Portugis berhasil mendirikan kantor dagangnya di Gowa pada tahun1509.
Pada tahun 1511 di bawah pimpinan  d'Albuquerque Portugis berhasil menguasai Malaka. Dari Malaka di bawah pimpinan d'Abreu tahun 1512 Portugis telah sampai di Maluku dan diterima baik oleh Sultan Ternate yang pada waktu itu sedang bermusuhan dengan Tidore. Portugis berhasil mendirikan benteng dan mendapatkan hak monopoli perdagangan rempah-rempah.
Selain mengadakan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku, Portugis juga aktif menyebarkan agama Kristen (Katolik) dengan tokohnya yang terkenal ialah Franciscus Xaverius. Portugis ini tidak hanya memusatkan kegiatannya di Indonesia bagian timur (Maluku ), tetapi juga ke Indonesia bagian barat (Pajajaran). Pada tahun 1522 Portugis datang ke Pajajaran di bawah pimpinan

Henry Leme dan disambut baik oleh Pajajaran dengan maksud agar Portugis mau membantu dalam menghadapi ekspansi Demak. Terjadilah Perjanjian Sunda Kelapa (1522) antara Portugis dan Pajajaran, yang isinya sebagai berikut:
1.      Portugis diijinkan mendirikan benteng di Sunda Kelapa.
2.      Pajajaran akan menerima barang-barang yang dibutuhkan dari Portugis termasuk senjata.
3.      Portugis akan memperoleh lada dari pajajaran menurut kebutuhannya.
Awal tahun 1527 Portugis datang lagi ke Pajajaran untuk merealisasi Perjanjian Sunda Kelapa, namun disambut dengan pertempuran oleh pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahilah. Pertempuran berakhir dan namanya diganti menjadi Jayakarta, artinya pekerjaan yang jaya (menang).

·         Masuknya Bangsa Belanda ke Indonesia
            Sebelum datang ke Indonesia, para pedagang Belanda membeli rempah-rempah di Lisabon (ibu kota Portugis). Pada waktu itu Belanda masih berada di bawah penjajahan Spanyol. Mulai tahun 1585, Belanda tidak lagi mengambil rempah-rempah dari Lisabon karena Portugis dikuasai oleh Spanyol. Dengan putusnya hubungan perdagangan rempah-rempah antara Belanda dan Spanyol mendorong bangsa Belanda untuk mengadakan penjelajahan samudra.   
Pada bulan April 1595, Belanda memulai pelayaran menuju Nusantara dengan empat buah kapal di bawah pimpinan Cornelis  de Houtman. Dalam pelayarannya menuju ke timur, Belanda menempuh rute Pantai Barat Afrika –Tanjung Harapan–Samudra Hindia–Selat Sunda–Banten.
Pada saat itu Banten berada di bawah pemerintahan Maulana Muhammad (1580–1605) Kedatangan rombongan Cornelis de Houtman, pada mulanya diterima baik oleh masyarakat Banten dan juga diizinkan untuk berdagang di Banten.
Namun, karenanya sikap yang kurang baik sehingga orang Belanda kemudian diusir dari Banten. Selanjutnya, orang-orang Belanda meneruskan perjalanan ke timur akhirnya sampai di Bali.
Rombongan kedua dari Negeri Belanda di bawah pimpinan Jacob van Neck dan Van Waerwyck, dengan delapan buah kapalnya tiba di Banten pada bulan November 1598. Pada saat itu hubungan Banten dengan Portugis sedang memburuk sehingga kedatangan bangsa Belanda diterima dengan baik. Sikap Belanda sendiri juga sangat hati-hati dan pandai mengambil hati para penguasa Banten sehingga tiga buah kapal mereka

penuh dengan muatan rempah-rempah (lada) dan dikirim ke Negeri Belanda, sedangkan lima buah kapalnya yang lain menuju ke Maluku.
Keberhasilan rombongan Van Neck dalam perdagangan rempah-rempah, mendorong orang-orang Belanda yang lain untuk datang ke Indonesia. Akibatnya terjadi persaingan di antara pedagang-pedagang Belanda sendiri.
Setiap kongsi bersaing secara ketat. Di samping itu, mereka juga harus menghadapi persaingan dengan Portugis, Spanyol, dan Inggris. Melihat gelagat yang demikian, Olden Barneveld menyarankan untuk membentuk perserikatan dagang yang mengurusi perdagangan di Hindia Timur. Pada tahun 1602 secara resmi terbentuklah Vereenigde Oost Indiesche Compagnie (VOC) atau Perserikatan Dagang Hindia Timur. VOC membuka kantor dagangnya yang pertama di di Banten (1602) di kepalai oleh Francois Wittert. Tujuan dibentuknya VOC adalah sebagai berikut:
1.      Untuk menghindari persaingan yang tidak sehat antara sesama pedagang Belanda.
2.      Untuk memperkuat posisi Belanda dalam menghadapi persaingan, baik dengan sesama bangsa Eropa, maupun dengan bangsa-bangsa Asia.
3.      Untuk mendapatkan monopoli perdagangan, baik impor maupun ekspor.

·         Masuknya inggris ke Indonesia
Kedatangan bangsa Inggris ke Indonesia dirintis oleh Francis Drake dan Thomas Cavendish. Dengan mengikuti jalur yang dilalui Magellan, pada tahun 1579 Francis Drake berlayar ke Indonesia. Armadanya berhasil membawa rempah-rempah dari Ternate dan kembali ke Inggris lewat Samudera Hindia. Perjalanan beriktunya dilakukan pada tahun 1586 oleh Thomas Cavendish melewati jalur yang sama.
Pengalaman kedua pelaut tersebut mendorong Ratu Elizabeth I meningkatkan pelayaran internasioalnya. Hal ini dilakukan dalam rangka menggalakan ekspor wol, menyaingi perdagangan Spanyol, dan mencari rempah-rempah. Ratu Elizabeth I kemudian memberi hak istimewa kepada EIC (East Indian Company) untuk mengurus perdagangan dengan Asia. EIC kemudian mengirim armadanya ke Indonesia. Armada EIC yang dipimpin James Lancestor berhasil melewati jalan Portugis (lewat Afrika). Namun, mereka gagal mencapai Indonesia karena diserang Portugis dan bajak laut Melayu di selat Malaka.




3.3  menganalisis strategi perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan bangsa
barat di Indonesia sebelum dan sesudah abad ke-20

menggunakan strategi perang gerilya, Gerilya adalah salah satu strategi perang yang dikenal luas, karena banyak digunakan, selama perang kemerdekaan di Indonesia pada periode 1950-an. A.H. Nasution yang pernah menjabat pucuk panglima Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Darat (TNI-AD) menuliskan di buku "Pokok-pokok Gerilya". Bagi tentara perang gerilya sangatlah efektif. Mereka dapat mengelabui,menipu atau bahakan melakukan serangan kilat. Taktik ini juga manjur saat menyerang musuh jumlah besar yang kehilangan arah dan tidak menguasai medan. kadang taktik ini juga mengarah pada taktik mengepung secara tidak terlihat (invisible). Sampai sekarang taktik ini masih dipakai teroris untuk sembunyi. Jika mereka menguasai medan mereka dapat melakukan : penahanan sandera, berlatih, pembunuhan hingga menjadi mata-mata. Dan musuh dapat melakukan nomaden, yaitu berpindah- pindah.

3.4  Menganalisis persamaan dan perbedaan pendekatan dan strategi      pergerakan nasional di Indonesia pada masa awal kebangkitan nasional, sumpah pemuda dan sesudahnya sampai dengan proklamasi kemerdekaan

secara kooperatif dan nonkooperatif/radikal

3.5  Menganalisis peran tokoh nasional dan daerah dalam perjuangan menegakkan Negara republic Indonesia

1.      Peristiwa redas dengklok
Kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik semakin jelas dengan dijatuhkannya bom atom oleh Sekutu di kota Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945. Akibat peristiwa tersebut, kekuatan Jepang makin lemah. Kepastian berita kekalahan Jepang terjawab ketika tanggal 15 Agustus 1945 dini hari, Sekutu mengumumkan bahwa Jepang sudah menyerah tanpa syarat dan perang telah berakhir. Berita tersebut diterima melalui siaran radio di Jakarta oleh para pemuda yang termasuk orang-orang Menteng Raya 31 seperti Chaerul Saleh, Abubakar Lubis, Wikana, dan lainnya. Penyerahan Jepang kepada Sekutu menghadapkan para pemimpin I ndonesia pada masalah yang cukup berat. Indonesia mengalami kekosongan kekuasaan (vacuum of power). Jepang masih tetap berkuasa atas Indonesia meskipun telah menyerah, sementara pasukan Sekutu yang akan menggantikan mereka belum datang.

Gunseikan telah mendapat perintah-perintah khusus agar mempertahankan status quo sampai kedatangan pasukan Sekutu. Adanya kekosongan kekuasaan menyebabkan munculnya konflik antara golongan muda dan golongan tua mengenai masalah k emerdekaan Indonesia. Golongan muda menginginkan agar proklamasi kemerdekaan segera dikumandangkan. Mereka itu antara lain Sukarni, B.M Diah, Yusuf Kunto, Wikana, Sayuti Melik, Adam Malik, dan Chaerul Saleh. Sedangkan golongan tua menginginkan prokla masi kemerdekaan harus dirapatkan dulu dengan anggota PPKI. Mereka adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Mr. Ahmad Subardjo, Mr. Moh. Yamin, Dr. Buntaran, Dr. Syamsi dan Mr. Iwa Kusumasumantri. Golongan muda kemudian mengadakan rapat di salah satu ruangan Lembaga Bakteriologi di Pegangsaan Timur, Jakarta pada tanggal 15 Agustus 1945 pukul 20.00 WIB. Rapat tersebut dipimpin oleh Chaerul Saleh yang menghasilkan keputusan tuntutan-tuntutan golongan muda yang menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hal dan soal rakyat Indonesia sendiri, tidak dapat digantungkan kepada bangsa lain. Segala ikatan, hubungan dan janji kemerdekaan har us diputus, dan sebaliknya perlu mengadakan perundingan dengan Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta agar kelompok pemuda diikutsertakan dalam menyatakan proklamasi. Langkah selanjutnya malam itu juga sekitar jam 22.00 WIB Wikana dan Darwis mewakili kelompok muda mendesak Soekarno agar bersedia melaksanakan proklamasi kemerdekaan Indonesia secepatnya lepas dari Jepang. Ternyata usaha tersebut gagal. Soekarno tetap tidak mau memproklamasikan kemerdekaan. Kuatnya pendirian Ir. Soekarno untuk tidak memproklamasikan kemerdekaan sebelum rapat PPKI menyebabkan golongan muda berpikir bahwa golongan tua mendapat pengaruh dari Jepang. Selanjutnya golongan muda mengadakan rapat di Jalan Cikini 71 Jakarta pada pukul 24.00 WIB menjelang tanggal 16 Agustus 1945. Mereka membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Rapat tersebut menghasilkan keputusan bahwa Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta harus diamankan dari pengaruh Jepang. Tujuan para pemuda mengamankan Soekarno Hatta ke Rengas dengklok antara lain :
a.       agar kedua tokoh tersebut tidak terpengaruh Jepang, dan
b.      mendesak keduanya supaya segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia terlepas dari segala ikatan dengan Jepang.
Pada tanggal 16 Agustus 1945 pagi, Soekarno dan Hatta tidak dapat ditemukan di Jakarta. Mereka telah dibawa oleh para pemimpin pemuda, di antaranya Sukarni, Yusuf Kunto, dan Syudanco Singgih, pada malam harinya ke garnisun PETA (Pembela Tanah Air) di Rengasdengklok, sebuah kota kecil yang terletak sebelah Utara Karawang. Pemilihan Rengasdengklok sebagai tempat pengamanan Soekarno Hatta, didasarkan pada perhitungan militer. Antara anggota PETA Daidan Purwakarta dan Daidan Jakarta terdapat hubungan erat sejak keduanya

melakukan latihan bersama. Secara geografis, Rengasdengklok letaknya terpencil, sehingga dapat dilakukan deteksi dengan mudah setiap gerakan tentara Jepang yang menuju Rengasdengklok, baik dari arah Jakarta, Bandung, atau Jawa Tengah. Mr. Ahmad Subardjo, seorang tokoh golongan tua merasa prihatin atas kondisi bangsanya dan terpanggil untuk mengusahakan agar proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan secepat mungkin. Untuk tercapainya maksud tersebut, Soekarno Hatta harus segera dibwa ke Jakarta.
   Akhirnya Ahmad Subardjo, Sudiro, dan Yusuf Kunto segera menuju Rengasdengklok. Rombongan tersebut tiba di Rengasdengklok pukul 17.30 WIB. Peranan Ahmad Subardjo sangat penting dalam peristiwa kembalinya Soekarno Hatta ke Jakarta, sebab mampu meyakinkan para pemuda bahwa proklamasi kemerdekaan akan dilaksanakan keesokan harinya paling lambat pukul 12.00 WIB, nyawanya sebagai jaminan. Akhirnya Subeno sebagai komandan kompi Peta setempat bersedia melepaskan Soekarno Hatta ke Jakarta.

2.      Perumusan teks proklamasi
Sekitar pukul 21.00 WIB Soekarno Hatta sudah sampai di Jakarta dan langsung menuju ke rumah laksamana Muda Maeda, Jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta untuk menyusun teks proklamasi. Dalam kondisi demikian, peran Laksamana Maeda cukup penting. Pada saat-saat yang genting, Maeda menunjukkan kebesaran moralnya, bahwa kemerdekaan merupakan aspirasi alamiah dan hak dari setiap bangsa, termasuk bangsa Indonesia. Berikut ini tokoh-tokoh yang terlibat secara langsung dalam perumusan teks proklamasi.

3.      Pelaksanaan proklamasi kemerdekaan
Setelah  rumusan teks proklamasi selesai dirumuskan muncul permasalahan, siapa yang akan menandatangani teks proklamasi? Soekarno mengusulkan agar semua yang hadir dalam rapat tersebut menandatangani naskah proklamasi sebagai” Wakil-wakil Bangsa Indonesi a”. Usulan Soekarno tidak disetujui para pemuda sebab sebagian besar yang hadir adalah anggota PPKI, dan PPKI dianggap sebagai badan bentukan Jepang. Kemudian Sukarni menyarankan agar Soekarno Hatta yang menandatangani teks proklamasi atas nama bangsa Indonesia. Saran dan usulan Sukarni diterima. Langkah selanjutnya, Soekarno minta kepada Sayuti Melik untuk mengetik konsep teks proklamasi dengan beberapa perubahan, kemudian ditandatangani oleh Soekarno Hatta. Perubahan-perubahan tersebut meliputi:




a.       kata “ tempoh” diubah menjadi tempo,
b.      wakil-wakil bangsa Indonesia diubah menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”, dan
c.       tulisan “Djakarta, 17-8-’05“ diubah menjadi Djakarta, hari 17 boelan 8 tahun ‘05.
Naskah hasil ketikan Sayuti Melik merupakan naskah proklamasi yang autentik. Malam itu juga diputuskan bahwa naskah proklamasi akan dibacakan pukul 10.00 pagi di Lapangan Ikada, Gambir. Tetapi karena ada kemungkinan timbul bentrokan dengan pasukan Jepang yang terus berpatroli, akhirnya diubah di kediam an Soekarno, Jl. Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Sejak pagi hari tanggal 17 Agustus 1945 di kediaman Ir. Soekarno Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta telah diadakan berbagai persiapan untuk menyambut Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kurang lebih pukul 09.55 WIB, Drs. Mohammad Hatta telah datang dan langsung menemui Ir. Soekarno. Sebelum proklamasi kemerdekaan dibacakan, pukul 10.00 WIB Soekarno menyampaikan pidatonya.

3.6  menganalisis dampak politik, budaya, sosial ekonomi dan pendidikan pada masa penjajahan barat dalam kehidupan bangsa Indonesia masa kini

Mungkin pada masa dlu bangsa kita merasa tersiksa contohnya pada kerja rodi di masa penjajahan belanda namun manfaatnya sekarang dapat dirasakan yaitu memiliki semangat juang yang tinggi dan berkembang dari berbagai aspek

3.7  menganalisis peristiwa proklamasi kemerdekaan dan maknanya bagi kehidupan sosial, budaya, ekonomi, poliik, dan pendidikan bangsa Indonesia

Bagi bangsa Indonesia, Proklamasi Kemerdekaan bukan semata-mata sebagai tujuan, tetapi “jembatan emas” menuju bangsa yang maju dan mandiri. Dikatakan sebagai jembatan emas karena Proklamasi kemerdekaan menjadi titik awal yang baik dalam upaya mewujudkan tujuan bernegara; melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum; mencerdaskan bangsa; dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.




Makna kemerdekaan bagi bangsa Indonesia adalah merdeka dalam bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan:
1.      Merdeka dalam bidang politik berarti bangsa Indonesia mempunyai kedaulatan, yaitu kedaulatan rakyat.
2.      Merdeka dalam bidang ekonomi berarti bangsa Indonesia harus mandiri atau berdiri di atas kaki sendiri (berdikari).
3.      Merdeka dalam bidang kebudayaan berarti bangsa Indonesia mempunyai kepribadian nasional.

3.8  menganalisis peristiwa pembentukan pemerintahan republic Indonesia dan maknanya bagi kehidupan kebangsaan Indonesia masa kini
Sistem Pemerintahan Indonesia di awal masa Kemerdekaannya adalah Sistem PRESIDENSIIL. Sistem Pemerintahan ini sesuai dengan rumusan Undang-undang Dasar 1945, dimana Presiden sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dan kedudukan mentri adalah sebagai pembantu presiden. “Menteri merupakan pembantu presiden (pemerintah) yang diangkat dan diberhentikan oleh presiden, sehingga menteri bertanggungjawab kepada presiden”. Oleh karena itu, untuk melengkapi pemerintahan Indonesia dibentuklah departemen dan kementrian. Seharusnya pembentukan kementrian diserahkan pada presiden tetapi untuk negara Indonesia yang baru merdeka ini pembentukan Departemen dan Susunan Kementrian Negara diserahkan pada panitia kecil (Ahmad Subardjo, Sutardjo Kartohadikusumo,Kasman Singodimejo). Akhirnya berdasarkan sidang PPKI tanggal 19 Agustus 1945 pada tanggal 12 September 1946 dibentuklah Kabinet Presidensiil (Kabinet RI I) dengan 12 departemen dengan 4 menteri negara.
Sejak tanggal 14 November 1945 Indonesia menggunakan sistem Kabinet PARLEMENTER dengan Perdana Menteri pertamanya yaitu Sutan Syahrir. Sistem Kabinet Parlementer inilah yang katanya sesuai dengan harapan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia mengharapkan sistem pemerintahan Demokrasi dimana cirinya adalah adanya DPR (parlemen) yang anggota-anggotanya dipilih langsung oleh rakyat. Pola pemerintahan ini merupakan bentuk penerapan demokrasi yang ada di negara Belanda yang berdasarkan multipartai yaitu sistem pemerintahan parlementer. Jika menggunakan kabinet presidentil maka presiden berperan sebagai pemimpin kabinet dan kabinet bertanggungjawab kepada presiden. Tetapi jika menggunakan kabinet Parlementer maka presiden bertanggungjawab kepada parlemen (KNIP).  
Makna kehidupan kebangsaan Indonesia pada masa kini
KEBANYAKAN orang keliru memahami makna sejarah kebangsaan. Kejayaan Sriwijaya, kejayaan Majapahit yang menguasai kerajaan-kerajaan kecil di seluruh wilayah nusantara, hanya “dikenang” sebagai peristiwa masa lalu.




Pancasila yang menjadi dasar negara dan ideologi bangsa yang mampu merekat keaneka ragaman dan kemajemukan bangsa, hanya dipandang sebagai masa lalu dan kuno. Baik pemerintah maupun para elit politik hanya menjadikan Pancasila sebagai wacana seremonial dalam upacara-upacara kenegaraan dan dalam “upacara” peringatan hari lahirnya Pancasila. Sesudah upacara, perduli amat ! Tanpa tindak lanjut yang berarti.
Nilai-nilai dasar kebangsaan bersumber dari nilai-nilai budaya yang dimiliki bangsa itu. Nilai-nilai dasar kebangsaan mengalir dari sumbernya mengarungi bukit, lereng, jurang dan lembah menjadi aliran semangat kebangsaan yang dahsyat, yang mampu menembus dan menggerus bebatuan yang menghalangi cita-cita kebangsaan yang hendak diraih oleh bangsa Indonesia. Seperti bangsa Indonesia, dibangkitkan sejak awal permulaan abad ke 20 (Kebangkitan Nasional 1908), dibangun atau diwujudkan sejak awal pertengahan abad ke 20 (Sumpah Pemuda 1928) dan bangsa Indonesia menegara sejak pertengahan abad ke 20 (Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia 1945).

3.9  menganalisis peran bung karno dan bung hata sebagai proklamaor serta tokoh-tokoh proklamasi lainnya
1.      Soekarno dan M. Hatta
Kedua tokoh pahlawan Negara Indonesia itu merumuskan naskah proklamasi bersama dengan Soebardjo. Sukarno dan Bung Karno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan M.Hatta sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia pertama.

2.      Sayuti Melik
Beliau adalah tokoh yang mengetik naskah teks proklamasi setelah disempurnakan dari naskah tulisan tangan asli.

3.      Sukarni
Sukarni adalah tokoh pemuda yang sebelumnya pernah memimpin asrama angkatan baru yang berlokasi di menteng raya 31.

4.      B.M. Diah
Beliau merupakan tokoh yang berperan sebagai wartawan dalam menyiarkan kabar berita Indonesia Merdeka ke seluruh penjuru tanah air.

5.      Latif Hendraningrat, S. Suhud dan Tri Murti
Mereka berperan penting dalam pengibaran bendera merah putih pada acara proklamasi 17-08-1945. Tri Murti sebagai petugas pengibar pemegang baki bendera merah putih.




6.      Frans S. Mendur
Beliau seorang wartawan yang menjadi perekam sejarah melalui gambar-gambar hasil bidikannya pada peristiwa-peristiwa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia bersama kawan-kawannya di Ipphos (Indonesia Press Photo Service).

7.      Syahrudin
Adalah seorang telegraphis pada kantor berita Jepang yang mengabarkan berita proklamasi kemerdekaan Negara Indonesia ke seluruh dunia secara sembunyi-sembunyi ketika personil jepang istirahat pada tanggal 17 agustus 1945 jam 4 sore.

8.      Soewirjo
Beliau adalah walikota Jakarta Raya yang mengusahakan kegiatan upacara proklamasi dan pembacaan proklamasi berjalan aman dan lancar.

3.10          menganalisis perubahan dan perkembangan politik masa awal kemerdekaan

1.      Perubahan sistem Presidensial ke parlementer
Pada tanggal 3 November 1945 diterbitkan maklimat pemrintah yang isinya Pemerintah memberikan kesempatan pendirian partai-partai politik. Sjahrir mengajukan maklumat KNIP No.5 tanggal 11 November 1945 yang isinya pembentukan kabinet dengan susunan mentri yang bekerja kolektif yang dipimpin perdana menteri yang dirunjuk oleh kepala negara.format itu terpaksa disetujui Presiden Soekarno. Akhirnya pada tanggal 14 November 1945 terbentuk kabinet ministarial dengan Sjahrir sebagai perdana mentri. Sejak saat itu Indonesia menerapkan sistem parlementer.

2.      Perubahan Fungsi KNIP
Dalam sidang pertama KNIP di Jakarta tanggal 14 Oktober 1945, sutan sjahrir diminta duduk sebagai ketua Badan Pekerja KNIP. Ketika itu sebagian besar anggotanya sedang mengusulkan perubahan fungsi KNIP dari hanya sebagai Badan pembantu Presiden, menjadi lembaga legislatif. Hal itu didukung Hatta yang menerbitkan Maklumat Presiden Nomor X tanggal 16 Oktober 1945 tentang pemberian kekuasaan legislatif kepada KNIP.





3.      Perpindahan Ibu Kota Negara
Sampai dengan awal tahun 1946, keadaan Ibu Kota Jakarta sudah semakin kacau. Pemerintah terus didesak dan diteror oleh kekuasaan asingr. Akhirnya, pada tanggal 14 Januari 1946 Ibu Kota dipindah ke Yogyakarta. Pemilihan kota Yogyakarta sebagai Ibu Kota ada beberapa alasanya yaitu:
a.       Terdapat markas besar Tentara.
b.      Tidak ada kekutan sekutu.
c.       Terdapat Laskar Hizbullah dan Laskar Mataram.
d.      Yogyakarta mampu menjamin pelaksanaan perjuangan.
e.       Letak Yogyakarta yang dekat dengan Semarang dan Surakarta.

3.11  menganalisis perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya mempertahankan kemerdekaan dari ancaman sekutu dan belanda

Sejak tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya. Dengan demikian bangsa Indonesia telah menjadi bangsa yang merdeka, bebas dari belenggu penjajahan. Akan tetapi, Belanda belum rela dengan kemerdekaan Indonesia tersebut. Melalui berbagai cara Belanda tetap ingin menjajah Indonesia. Bagaimana sikap Bangsa Indonesia? Tentu saja, bangsa Indonesia tidak tinggal diam. Dengan berbagai upaya, bangsa Indonesia tetap mempertahankan kemerdekaannya. Usaha-usaha apa saja yang dilakukan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya?

          Pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Akan tetapi, ada pihak-pihak yang tidak mengakui kedaulatan pemerintahan Republik Indonesia. Ketika negara kita memproklamasikan kemerdekaan, tentara Jepang masih ada di Indonesia. Sekutu menugaskan Jepang untuk menjaga keadaan dan keamanan di Indonesia seperti sebelum Jepang menyerah kepada Sekutu. Tugas tersebut berlaku saat Sekutu datang ke Indonesia. Rakyat Indonesia yang menginginkan hak-haknya dipulihkan, berusaha mengambil alih kekuasaan dari tangan Jepang. Usaha tersebut mendapat rintangan dari pihak Jepang sehingga di beberapa tempat terjadi pertempuran antara tentar Jepang dengan rakyat Indonesia. Pertempuran-pertempuran tersebut menimbulkan korban di kedua belah pihak. Ketika rakyat Indonesia sedang menghadapi Jepang, Belanda (NICA) datang membonceng tentara Sekutu. Tujuan Belanda ingin menjajah kembali Indonesia. Pada tanggal 29 September 1945 tentara Sekutu dan pasukan NICA tiba di Indonesia dan mendarat di Pelabuhan Tanjung Priok. Tentara Sekutu membantu NICA yang ingin membatalkan kemerdekaan Indonesia. Rakyat Indonesia tidak ingin lagi menjadi bangsa yang terjajah. Rakyat Indonesia bangkit melawan tentara Sekutu dan NICA. Rakyat Indonesia menggunakan senjata rampasan dari Jepang dan senjata tradisional yang ada